Pada 10–11 Maret 2026, Aliansi Remaja Independen bersama AMAN Indonesia, Saraswati Learning Center, dan jaringan Youth, Peace and Security (YPS) menyelenggarakan Lokakarya Inklusif dalam rangka memperingati Hari Down Syndrome Sedunia. Kegiatan dua hari ini mengangkat tema pengenalan konsep Youth, Peace and Security (YPS) dan Kekerasan Berbasis Gender (KBG) melalui pendekatan bermakna dan inklusif bersama teman-teman disabilitas.
Lokakarya ini hadir dari keyakinan bahwa setiap orang tanpa terkecuali berhak terlibat dalam percakapan tentang perdamaian dan keamanan. Teman-teman disabilitas, yang kerap berada di posisi rentan, justru memiliki perspektif penting yang perlu didengar dan diperkuat dalam agenda YPS dan pencegahan KBG.
Rangkaian Kegiatan
Materi & Narasumber
Hari pertama diisi dengan dua sesi materi dari narasumber terpilih. Yogi Aris Budiman membuka diskusi dengan memperkenalkan kerangka Youth, Peace and Security, menegaskan bahwa agenda perdamaian bukan hanya soal terorisme atau konflik bersenjata, melainkan juga mencakup isu-isu non-tradisional seperti kekerasan dalam kehidupan sehari-hari. Setiap orang muda termasuk teman-teman disabilitas, memiliki hak dan peran untuk terlibat aktif dalam gerakan perdamaian.
Perdamaian bukan hanya absennya konflik — melainkan hadirnya ruang di mana setiap orang merasa aman, dihargai, dan didengar.
Sesi berikutnya dibawakan oleh Zelika Putri Wibowo, yang memperkenalkan konsep Kekerasan Berbasis Gender secara ramah dan inklusif. Materi ini menekankan bahwa KBG adalah masalah bersama yang dapat dialami siapa saja dan bahwa teman-teman disabilitas sebagai kelompok rentan berpotensi lebih tinggi menghadapi diskriminasi dan kekerasan. Peserta didorong untuk berani bersuara, menyampaikan pendapat dengan tegas, dan mulai dari diri sendiri untuk menolak segala bentuk perlakuan tidak baik.
Sorotan Kegiatan
Keterlibatan Aktif Peserta
Peserta terlibat dengan antusias dalam setiap sesi diskusi, terbuka dan responsif terhadap isu YPS dan KBG yang bagi banyak dari mereka merupakan topik yang baru.
Ekspresi Kreatif
Sebagai media pengukur pemahaman, peserta menuangkan refleksi mereka tentang perdamaian dan YPS melalui gambar dan tulisan sebuah pendekatan inklusif yang mengakomodasi beragam cara berkomunikasi.
Dialog dengan Pengajar
Ruang khusus dibuka bagi para pengajar Saraswati Learning Center untuk berbagi tantangan yang mereka hadapi, mengukur keterpaparan mereka terhadap isu KBG, serta memetakan peluang dan rekomendasi ke depan.
Inklusivitas Nyata
Desain lokakarya yang berpusat pada kebersamaan dari pos bermain hingga sesi materi, menciptakan suasana di mana semua peserta merasa dihargai dan didengar.
Lokakarya ini menjadi bukti bahwa isu YPS dan KBG adalah agenda milik semua orang, termasuk teman-teman disabilitas yang selama ini kerap terpinggirkan dari ruang-ruang diskusi tersebut. Keterbukaan dan keaktifan peserta sepanjang dua hari menjadi energi yang mendorong kami untuk terus menghadirkan ruang-ruang inklusif dan bermakna. Ke depan, kami berharap dapat memperluas jangkauan program serupa dan memastikan anak muda dengan disabilitas memiliki tempat yang setara dalam agenda perdamaian nasional.