Dukung Kami
Uncategorized

Kegiatan: Partisipasi ARI dalam Lokakarya Koalisi Perempuan Indonesia

Partisipasi dan peran para orang muda kerap kali ditepis dan diabaikan ketika pembuat kebijakan mulai merancang atau merekonstruksi sebuah peraturan. Tak jarang, kehadiran kaum muda juga dijadikan sebagai mayat hidup, bergerak pasif, dan dipaksa untuk tidak berkutik. Hal ini telah disadari oleh Aliansi Remaja Independen sejak 2012 lalu. Oleh karena itu ARI mengusung nilai Meaningful Youth Participation and Youth-adult partnership.

Salah satu anggota ARI, pada tanggal 6 – 8 Desember, hadir dalam pertemuan dengan Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) mengenai lokakarya advokasi dan kampanye yang berlangsung selama tiga hari di Hotel Balairung, Jakarta. Acara ini dihadiri oleh perwakilan organisasi dan komunitas kepemudaan seperti Komunitas Ceberal Pasly, pemuda Ansor, YPBI, PKBI, Tenggara Youth Community, dan Aliansi Remaja Independen. Acara ini dibuka dan disambut oleh Retno selaku Sekretariat Nasional Koalisi Perempuan Indonesia dan dilanjutkan oleh Maria serta Yolanda sebagai pengkaji materi advokasi dan kampanye. 

Pada sesi pertama, para peserta lokakarya diminta  menyimak materi yang disampaikan sekaligus mencatat poin – poin yang diperlukan, Maria sebagai perwakilan IRSJ menjelaskan beberapa hal penting yang harus dilakukan ketika melakukan advokasi dari sudut pandang sebuah hukum, yang pertama adalah mengamati kebijakan dan peraturan, dan yang kedua adalah menggunakan kebijakan dan peraturan tersebut, serta pada tahap ketiga adalah mengevaluasi kebijakan dan peraturan yang ada. 

Ketiga poin tersebut perlu dilakukan guna menghindari kegiatan advokasi yang menyongsong sebuah kebijakan dan peraturan yang sudah ada sebelumnya, selain itu hal ini dilakukan untuk meningkatkan literasi hukum terhadap peraturan dan kebijakan itu sendiri. Maria juga menegaskan bahwa hasil riset juga sangat diperlukan sebagai mata pisau ketika melakukan advokasi, karena riset memuat fakta yang dapat dijadikan acuan sebagai bahan advokasi. 

Acara ini dilanjutkan dengan sesi tanya jawab, Dewi Kusumawati seorang pelajar sekaligus perwakilan dari Aliansi Remaja Independen mengajukan pertanyaan retoris perihal hambatan dalam pengesahan peraturan. Pertanyaan ini dijawab oleh Yolanda sebagai pengkaji sekaligus perwakilan dari CWI, “Mereka mengedepankan kepentingan pribadi” Ujar Yolanda di Lokakarya Advokasi dan Kampanye KPI, Senin 6/12/2021. 

Maria menambahkan bahwa pihak kejaksaan juga pernah mengalami buta literasi terhadap kebijakan dan peraturan yang telah dibuat, ketika hal ini terjadi solusi yang paling tepat adalah mensosialisasikan hasil peraturan dan kebijakan yang ada kesegala arah, baik ranah pemerintah maupun ranah masyarakat itu sendiri.

Setelah sesi tanya jawab berlangsung, peserta dibagi menjadi dua bagian untuk mendiskusikan makna advokasi dan kampanye itu sendiri, mereka sibuk mendiskusikan hal hal yang dapat mendorong kegiatan advokasi.

Daniel Simatupang, seorang Pemuda Ansor sekaligus mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama menyampaikan hasil diskusi mengenai arti advokasi, bersama Alvian rekan pengkajinya. Mereka menyebutkan bahwa kunci keberhasilan advokasi adalah kebersamaan dan pantang menyerah, advokasi adalah upaya untuk mendorong pembentukan kebijakan baru ataupun mengevaluasi kebijakan yang sudah ada, hal ini tidak dapat dilakukan secara individu, tetapi harus dilakukan secara bersama – sama. Mereka juga menyebutkan bahwa perjuangan advokasi tidak dapat diraih dalam jangka waktu yang singkat, melainkan mereka memerlukan waktu yang relatif lama untuk mengesahkan sebuah kebijakan dan peraturan, hal ini menjadi landasan yang kuat mengapa sikap pantang menyerah sangat dibutuhkan ketika melakukan advokasi. 

Pada keesokan harinya, tepat pada hari Selasa 7 Desember 2021, acara lokakarya ini dimulai dengan topic sex education dan cara yang tepat untuk mengedukasi orang lain. Monica Bengu, seorang aktivis muda sekaligus seorang perwakilan dari Tenggara Youth Community menjelaskan bahwa cara untuk mengedukasi orang lain  yang tepat adalah mengedukasi diri terlebih dahulu, “Jika kita sendiri belum paham, bagaimana kita bisa mengedukasi orang lain, bisa salah informasi kalau begitu” Ujarnya. 

Selain itu, Monica Bengu yang kerap kali disapa Mogu juga menambahkan, bahwa cara yang tepat mengedukasi orang lain adalah bekerja sama dengan influencer yang turut andil dalam topik tabu seperti ini. Influencer yang dinilai dapat mengedukasi dan berkontribusi dalam isu sex education adalah Ernest Prakasa, Clarin Hayes, dan Gita Savitri Devi yang selama ini telah hadir di ruang lingkup sosial media masyarakat dan memiliki branding image yang cukup baik dalam isu sosial yang terjadi di masyarakat sekitar, terutama Clarin Hayes yang merupakan seorang dokter, tentunya ia memiliki kredibilitas lebih tinggi untuk dipercaya oleh masyarakat Indonesia. 

Pembahasan mengenai sex education kini berganti menjadi pembahasan mengenai cara berkomunikasi yang baik dan benar dalam berkampanye. Materi ini disampaikan pada 8 Desember 2021 di pertemuan lokakarya yang terakhir.  Materi ini disampaikan oleh Olin Monteiro, seorang aktivis perempuan dan kesetaraan gender, beliau menyadari bahwa sosialisasi informasi  mengenai kebijakan dan peraturan terhadap masyarakat tidak bisa dilakukan dengan gaya penyampaian yang terlalu akademis dan intelektual yang cenderung sulit dipahami oleh sebagian besar masyarakat Indonesia, maka dari itu sangat penting untuk mengetahui cara berkomunikasi yang mudah dimengerti oleh seluruh bagian masyarakat. 

Setelah sesi penyampaian materi, acara ini dilanjutkan dengan pembuatan kampanye oleh seluruh peserta lokakarya, mereka diminta untuk membuat satu bentuk karya kampanye untuk disebarkan di sosial media yang mereka punya, baik instagram, tik tok, twitter, maupun sosial media lainnya. Karya ini dapat dibuat dalam berkelompok maupun individu. Setelah pembuatan karya kampanye, mereka diminta untuk mempresentasikan hasil karya kampanye yang telah mereka buat. 

Beberapa hasil karya kampanye yang disajikan berupa podcast, tik tok, poster, sajak, bahkan lukisan. Salah satu peserta mengatakan bahwa kampanye yang terlalu formal dan punch to the line terkesan membosankan dan terlalu umum, “Mereka (target kampanye) butuh sesuatu yang beda, seni yang nggak biasa, sesuatu yang tersirat, novel dan film jawabannya” Ujar Dewi Kusumawati. 

Gadis remaja ini berpendapat bahwa tujuan adanya kampanye adalah bentuk usaha untuk mempengaruhi masyarakat dari segi tindakan maupun cara berpikir. Banner, spanduk, poster adalah cara yang terlalu umum dan bukan sesuatu yang baru, masyarakat cenderung enggan untuk menerima informasi yang terkesan kaku. Pembawaan sebuah film serta penulisan sebuah novel adalah cara yang cukup menarik untuk mengkampanyekan sebuah maksud dan tujuan. Dalam sebuah film maupun novel memiliki alur cerita yang menarik dan menggugah rasa emosional bagi setiap penikmat film maupun novel itu sendiri,  sehingga kita dapat menempatkan sebuah kampanye tersirat yang perlahan akan membuka jendela dan wawasan baru bagi penonton dan pembaca walau tidak benar mengalami masalah yang dialami oleh tokoh utama, terutama mengenai isu kekerasan seksual dan kesetaraan gender, dengan hal ini diharapkan para penikmat film dan novel dapat berpikir secara lebih terbuka dan peduli dengan kasus kasus kekerasan seksual yang terjadi selama ini. 

Pada sesi terakhir, seluruh peserta diminta untuk membuat proyek dan rancangan kerja yang akan mereka lakukan setelah menghadiri lokakarya kali ini, dengan harapan seluruh peserta dapat membagikan pengetahuan yang mereka dapat dari acara yang diselenggarakan oleh Koalisi Perempuan Indonesia (KPI), mereka juga diminta untuk membuat karya kampanye yang akan disebarkan di sosial media mereka dengan hashtag #AADG dan #Genderation_ selama kurun waktu 10 hari dari tanggal 13 sampai 22 Desember 2021. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Privacy Settings
We use cookies to enhance your experience while using our website. If you are using our Services via a browser you can restrict, block or remove cookies through your web browser settings. We also use content and scripts from third parties that may use tracking technologies. You can selectively provide your consent below to allow such third party embeds. For complete information about the cookies we use, data we collect and how we process them, please check our Privacy Policy
Youtube
Consent to display content from Youtube
Vimeo
Consent to display content from Vimeo
Google Maps
Consent to display content from Google
Spotify
Consent to display content from Spotify
Sound Cloud
Consent to display content from Sound