Dukung Kami
Uncategorized

How Women Lead: Pandangan ARI Mengenai Seksualitas

Saat ini pendidikan seksualitas di Indonesia hanya sebatas melarang aktifitas seks sebelum menikah. Masih sangat minim untuk isu seksualitas, consent dan relasi gender. Kebijakan terkait masih dirasa kurang dikarenakan sering bertabrakan dengan isu moralitas. Baru-baru ini, tepatnya 1 Desember 2021 Magdalene.co mengundang perwakilan ARI dalam diskusi tentang Pendidikan Seksualitas. Diskusi yang direkam secara live di podcast program Magdalene.co bertajuk How Women Lead mengarah kepada percakapan yang konstruktif dan bermanfaat. Diskusi ini juga mengundang pihak pemerintah, Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah, BKKBN, dan KPAI serta perwakilan remaja, orang tua dan guru.

Pelaksanaan diskusi tersebut diadakan untuk memperkuat survey online yang dilakukan Magdalene.co di 32 provinsi di Indonesia. Hasil dari 405 responden berusia 15-19 tahun, 98.5% menyatakan membutuhkan pendidikan seksualitas. Hal ini sejalan dengan pernyataan salah seorang responden bernama Jessica Suciandy. Remaja tersebut mengatakan bahwa pendidikan seksualitas didapatnya di sekolah dari pelajaran biologi pada materi sistem reproduksi. Dan sangat penting untuk memiliki edukasi perihal seksualitas untuk menjaga diri.

Stella Masaharu, seorang ibu dan juga public speaker berpendapat, pendidikan seksual dan reproduksi harus diberikan sejak dini. Bisa dimulai dengan pengenalan alat kelamin dengan penamaan yang tepat. Selanjutnya setiap perubahan di masa pubertas anak juga penting untuk orang tua bekali kepada anak. Sebagai orang tua, Stella mempercayai bila sekolah wajib memberi pembekalan pendidikan hak kesehatan seksual dan reproduksi secara berkelanjutan kepada tiap siswa.

Namun, ternyata di sekolah materi tentang seksualitas hanya menjadi bagian kecil. Contohnya, pada materi budi pekerti yang mengajarkan bagaimana keluarga terbentuk, apa itu pernikahan dan sebuah hubungan pacaran. Padahal pembekalan terkait seksualitas sudah menjadi urgensi bagi generasi genZ di era globalisasi, jelas perwakilan guru, Rudolf. Yang menjadi tantangan sekolah adalah pada alokasi waktu pembelajaran itu sendiri. Ditambah bahan belajar perlu disesuaikan baik untuk sekolah negeri maupun swasta.

Praktisi dokter yang diwakili oleh dr. Marcia Soumokil, MPH dari Yayasan IPAS Indonesia menjelaskan, bahwa pendidikan seksualitas dibagi menjadi 2, yaitu formal dan informal. Mengingat ada juga anak usia sekolah yang rentan dan tidak terdaftar sebagai peserta didik. Karena mengenai seksualitas harus masuk ke  dalam life skill education.

ARI sendiri telah hadir di Indonesia di 5 Provinsi yaitu NTB, NTT, Sulsel, Jakarta dan  Jateng. Fokus ARI adalah advokasi. Namun ARI juga telah menjangkau lebih dari 10.000 orang muda untuk mendapatkan pengetahuan dasar mengenai HKSR dan mengimplementasikan berbagai program mulai dari program untuk perkawinan anak, HIV AIDS, hingga kekerasan seksual.

Di tahun 2016-2020, ARI pernah melaksanakan kegiatan bernama Get Out Speak Up (GUSO) yang mengangkat Hak-Hak Kesehatan seksual dan Reproduksi pada Remaja di 10 provinsi di Indonesia yang juga berkolaborasi dengan beberapa komunitas. GUSO hadir mengisi kurangnya informasi dan layanan seksualitas dan kesehatan reproduksi bagi remaja untuk meningkatkan akses dan informasi terkait pendidikan dan layanan kesehatan seksual dan reproduksi yang ramah remaja. Tak hanya itu, GUSO juga ingin memberi ruang bagi remaja untuk bersuara akan Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi (HKSR). Kita semua harus yakin, bahwa seluruh remaja termasuk yang terpinggirkan dan rentan, memiliki kendali untuk memilih dan menjalankan haknya tanpa stigma dan diskriminasi.

Sebagai Anak Remaja dan Orang Muda, kami membutuhkan Pendidikan Seksual yang Komprehensif. Proses pembelajaran terkait Kesehatan seksual dan reproduksi yang kami dapat di institusi pendidikan masih sangat kurang. Dimana letak kekurangannya? Seringkali pendekatan dalam proses belajar yang kami dapatkan masih diskriminatif tanpa menekankan nilai-nilai kesetaraan, rasa hormat dan empati.

Selanjutnya, kegiatan yang akan ARI lakukan yaitu mengangkat isu sunat perempuan sebagai gambaran kekerasan terhadap hak seksual anak perempuan yang harus dihentikan. Langkah pertama yang kami lakukan tidak jauh dari memenuhi diri dengan pengetahuan, edukasi dan pemahaman terkait Kesehatan Seksual dan Reproduksi. Selama proses tersebut, kami menyadari satu hal terkait otonomi tubuh yang harus diperjuangkan demi kesejahteraan setiap orang.

Jika kita berpatok pada SDG’s 2030, Indonesia seharusnya sudah mampu memastikan akses universal terhadap layanan kesehatan seksual dan reproduksi, termasuk untuk perencanaan, informasi, dan pendidikan keluarga, dan mengintegrasikan kesehatan reproduksi kedalam strategi dan program nasional. 

Bagi ARI strategi yang tergambar untuk pemenuhan tersebut adalah dengan melakukan advokasi kepada Kemendikbud Ristek untuk membuat kurikulum yang relevan dan berbasis bukti dengan pemantauan atau evaluasi terhadap seluruh implementasi yang sudah dilakukan. Lalu selanjutnya, dapat bekerjasama dengan sektor lain, seperti Kemenkes. Dan yang tidak kalah penting adalah pelibatan komunitas dan organisasi sebagai ruang diskusi.

Kepala Badan Kependudukan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Pusat, Dr (HC) dr. Hasto Wardoyo, SpOG yang turut hadir menekankan bahwa saat-saat ini adalah momentum yang tepat dan indah untuk membuat strategi. Terkait pendidikan seksualitas tidak bisa dibedakan dengan pentingnya kesehatan reproduksi untuk dibahas. Beliau berpesan bahwa teman-teman atau masyarakat yang berfokus pada isu ini  harus mampu melihat dan mencari jalur advokasi yang cepat.

Hal tersebut disepakati oleh Prof. Alimatul Qibtiyah Ph.D dari – Kajian Gender Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga, agar pihak-pihak yang terkait mampu membuat strategi dan pengemasan yang mudah diterima. Sebagaimanna pendidikan seksualitas bukanlah promosi seks bebas. Justru agama intens memberikan ajaran seksulitas dari hal-hal yang sudah ada seperti saat beribadah, cara beretika hingga memiliki empati. 

Pendapat terakhir dari perwakilan KPAI menyatakan bahwa pemenuhan pendidikan seksualitas adalah hak dan informasi yang wajib untuk anak. Maka harus menjadi bagian yang sangat penting untuk disusun. Apalagi indonesia memiliki cita-cita, Indonesia Layak Anak 2030. Kekerasan/kejahatan seksual terjadi karena banyak instrumen atau infrastruktur yang belum ramah anak, jelas Jasra Putra.

Pada akhir diskusi, dr. Marcia Soumokil menjelaskan bahwa pembelajaran seksualitas kepada anak diberikan secara bertahap. Pada anak usia 8-12 tahap awal diberikan pengetahuan mengenai body, consent dan respect. Selanjutnya memasuki masa remaja, mereka berhak mendapat pengetahuan dan pembekalan untuk persiapan pubertas. Tidak lupa mengenalkan mereka, bahwa mereka memiliki hak-hak seksual dan reproduksi yang hanya mereka sendiri yang dapat menentukan. 

ARI juga mengutarakan keresahan anak remaja dan orang  muda yang kesulitan untuk berkomunikasi dengan orang tua atau keluarga terkait seksualitas. Secara teknikal, proses komunikasi terdiri dari pemberi pesan, pesan yang ingin disampaikan dan penerima pesan. Sangat penting memahami situasi dan gambaran keluarga tiap-tiap teman remaja. Seperti apa value yang biasa diterapkan, termasuk budaya dan kepercayaan yang dianut. Dengan harapan, bila sudah mengenal identitas diri, komunikasi yang dibangun dalam keluarga dapat berjalan baik. 

Pada kesimpulan diskusi ini, setiap narasumber yang diundang sepakat bahwa pendidikan seksualitas sangat dibutuhkan di Indonesia. Diperlukan siasat untuk pengemasan yang baik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Privacy Settings
We use cookies to enhance your experience while using our website. If you are using our Services via a browser you can restrict, block or remove cookies through your web browser settings. We also use content and scripts from third parties that may use tracking technologies. You can selectively provide your consent below to allow such third party embeds. For complete information about the cookies we use, data we collect and how we process them, please check our Privacy Policy
Youtube
Consent to display content from Youtube
Vimeo
Consent to display content from Vimeo
Google Maps
Consent to display content from Google
Spotify
Consent to display content from Spotify
Sound Cloud
Consent to display content from Sound